Insya Allah dunia Arab akan memasuki babak baru dalam sejarah politik, yaitu intifadha untuk memulai kehidupan baru menuju era yang menjanjikan. Bukan dimulai di Palestina, tetapi di Tunisia.
Tumbangnya Presiden Tunisia, Zein El Abidin Ben Ali (Zainul Abidin bon Ali), yang sudah berkuasa selama 23 tahun memicu kekhawatiran di semua negara Arab yang (hampir seluruhnya) dipimpin diktator. Abdel Bari Atwan, editor Al Quds Al Arabi bahkan menyarankan permerinyah Amerika Serikat (AS) untuk menyiapkan sebuah pulau yang khusus menampung para sekutu-sekutu diktator Arab mereka.
Krisis di Tunisia diawali oleh pembakaran diri oleh Mojammed Bouazizi, seorang sarjana yang baru saja lulus dan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Aksi ini kemudian diikuti seorang pria yang membakar diri di Kairo. Namun sesungguhnya yang terjadi bukan hanya masalah kesejahteraan saja.
"Rakyat Tunisia juga ingin menunjukkan pada rezim Arab bahwa mereka juga peduli hak asasi manusia (HAM) dan nilai-nilai keadilan," lanjut Atwan.
Lalu apakah hanya itu "permasalahan" Ben Ali?? Ternyata tidak.
Usut diusut, ternyata Ben Ali adalah pendukung setia Israel laknatullah. Buktinya pada saat Israel menginvasi Gaza habis-habisan pada akhir 2008 lalu, Ben Ali melarang warganya untuk turun melakukan demonstrasi anti Israel. Lebih parah lagi dia juga melarang warga Tunisia untuk mengumpulkan bantuan bagi warga Gaza. Kedekatan hubungan Ben Ali degan Israel pun tidak disanggah oleh para pejabat Israel.
Selain dekat dengan Israel Ben Ali juga memilki hubungan yang dekat dengan faksi sekuler di Paletina, Fatah. Bahkan Yasser Arafat dan Mahmaoud Abbas memiliki rumah dan tinggal disana selama 1 dekade sebelum pindah ke teritorial Palestina, setelah Perjanjian Oslo 1993.
Setelah ditumbangkan oleh rakyatntnya kemudian Ben Ali melarika diri, Ben Ali beserta keluarganya kemudian melarikan diri dengan membawa 1,5 ton emas senilai lebih dari 45 juta euro (Rp542 miliar). Ini merupakana bukti bahwa Ben Ali tidak peduli dengan nasib rakyat Tunisia dan lebih mementingkan memperkaya diri sendiri dan keluarganya.
Lalu kemanakah Ben Ali melarikan dir setelah di kudeta rakyatnya? Ben Ali melarikan diri ke ARAB SAUDI dan (kemungkinan besar) mencari perlindungan dari penguasa disana...
Ini pantas dilakukan Ben Ali karena sudah menjadi rahasia umum bahwa Ben Ali dan klan Ibnu Sa'ud merupakan sekutu-sekutu AS. di dunia Arab.
Pertanyaan yang muncul adalah pantaskah Kerajaan Arab Saudi, yang mengklaim diri mereka sebagai penjaga kota suci Mekkah dan Madinah, memberikan perlindungan pada seorang koruptor sekaligus penindas??
