Powered By Blogger

Selasa, 12 April 2011

CERMATI APA YANG TERJADI DI TUNISIA


Insya Allah dunia Arab akan memasuki babak baru dalam sejarah politik, yaitu intifadha untuk memulai kehidupan baru menuju era yang menjanjikan. Bukan dimulai di Palestina, tetapi di Tunisia.

Tumbangnya Presiden Tunisia, Zein El Abidin Ben Ali (Zainul Abidin bon Ali), yang sudah berkuasa selama 23 tahun memicu kekhawatiran di semua negara Arab yang (hampir seluruhnya) dipimpin diktator. Abdel Bari Atwan, editor Al Quds Al Arabi bahkan menyarankan permerinyah Amerika Serikat (AS) untuk menyiapkan sebuah pulau yang khusus menampung para sekutu-sekutu diktator Arab mereka.
Krisis di Tunisia diawali oleh pembakaran diri oleh Mojammed Bouazizi, seorang sarjana yang baru saja lulus dan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Aksi ini kemudian diikuti seorang pria yang membakar diri di Kairo. Namun sesungguhnya yang terjadi bukan hanya masalah kesejahteraan saja.
"Rakyat Tunisia juga ingin menunjukkan pada rezim Arab bahwa mereka juga peduli hak asasi manusia (HAM) dan nilai-nilai keadilan," lanjut Atwan.

Lalu apakah hanya itu "permasalahan" Ben Ali?? Ternyata tidak.
Usut diusut, ternyata Ben Ali adalah pendukung setia Israel laknatullah. Buktinya pada saat Israel menginvasi Gaza habis-habisan pada akhir 2008 lalu, Ben Ali melarang warganya untuk turun melakukan demonstrasi anti Israel. Lebih parah lagi dia juga melarang warga Tunisia untuk mengumpulkan bantuan bagi warga Gaza. Kedekatan hubungan Ben Ali degan Israel pun tidak  disanggah oleh para pejabat Israel.
Selain dekat dengan Israel Ben Ali juga memilki hubungan yang dekat dengan faksi sekuler di Paletina, Fatah. Bahkan Yasser Arafat dan Mahmaoud Abbas memiliki rumah dan tinggal disana selama 1 dekade sebelum pindah ke teritorial Palestina, setelah Perjanjian Oslo 1993.
Setelah ditumbangkan oleh rakyatntnya kemudian Ben Ali melarika diri, Ben Ali beserta keluarganya kemudian melarikan diri dengan membawa 1,5 ton emas senilai lebih dari 45 juta euro (Rp542 miliar). Ini merupakana bukti bahwa Ben Ali tidak peduli dengan nasib rakyat Tunisia dan lebih mementingkan memperkaya diri sendiri dan keluarganya.

Lalu kemanakah Ben Ali melarikan dir setelah di kudeta rakyatnya? Ben Ali melarikan diri ke ARAB SAUDI dan (kemungkinan besar) mencari perlindungan dari penguasa disana...
Ini pantas dilakukan Ben Ali karena sudah menjadi rahasia umum bahwa Ben Ali dan klan Ibnu Sa'ud merupakan  sekutu-sekutu AS. di dunia Arab.
Pertanyaan yang muncul adalah pantaskah Kerajaan Arab Saudi, yang mengklaim diri mereka sebagai penjaga kota suci Mekkah dan Madinah, memberikan perlindungan pada seorang koruptor sekaligus penindas??

Surat untuk Aburizal bakrie'


Bung Ical yang terhormat,
     Saya percaya anda lebih berkuasa dari presiden di negara ini
           Sri Mulyani anda singkirkan dan mengungsi dari tanah kelahiran yang dicintainya
     Satgas anda bungkam sehingga tak lagi bersuara
           Kepolisian dan Kejaksaan anda injak saat mereka menangani sang perampok: gayus
     sehingga anda pun tidak akan terkait dengan kebusukannya

           Saya percaya anda juga telah menebar magnet kharisma anda yang bernama rupiah di petinggi PSSI
           Juga menanam sanak keluarga, handai taulan di tempat ini: Nirwan, Nurdin Halid, Andi Darussalam..
           Tapi biarkan olahraga yang satu ini tetap menjadi milik kita, jangan anda rebut lagi
Anda boleh menguasai yang lainnya, apapun atau siapapun yang bisa anda beli dengan kekayaan anda

           Kami tidak peduli anda menjadi ketua partai dengan cara membeli orang-orang yang sekarang menjadi pembela anda nomor wahid
     Tapi tolong jangan anda kotori kesucian olahraga ini

     Bung Ical
                Anda bisa memiliki segalanya, tapi jangan yang satu ini
     Biarkan ini tetap menjadi milik kami
                Biarkan kami meneriakkan gairah kami pada permainan yang satu ini
Bagi kami inilah ekstasi untuk sejenak melupakan kepenatan kami atas kerasnya hidup yang mungkin
     tidak pernah anda rasakan sejak anda menghirup udara di dunia ini
           Biarkan kami meneriakan nama-nama pahlawan kami kami: Bambang Pamungkas! (bukan bambang soesatyo), Markus Horison! (bukannya (melchias) markus mekeng), Firman Utina! (tidak firman
     soebagyo)

     Bung Ical
     Tidak kah anda melihat dan cemburu karenanya?
           Bagaimana kami melonjak, berteriak dan tersenyum bahagia sekedar dapat melihat pujaan kami
               
           Kami teriakkan nama-nama mereka dengan cinta tanpa pamrih rupiah
     Irfan Bachdim!!! Christian Gonzales!!! Okto!!

                Saat ini mereka adalah pahlawan kami
     Pahlawan dengan parfum keringat yang menetes, bukannya armani
           Pahlawan yang berkaus basah dan bercelana pendek, bukan pahlawan dalam setelan jas dan dasi
           Pahlawan di lapangan rumput, tidak di gedung berpendingin ruangan di senayan

           Tidak kah bung bertanya, mengapa kami menjadikan mereka pahlawan?
           Karena mereka mencoba dengan sekuat tenaga, dengan keringat dan air mata membuat kami bahagia
           Oleh karenanya, apapun hasil perjuangan mereka, nama mereka akan selalu lekat di hati kami,
     mereka tetap pahlawan kami
           Kami pun bahagia menjadi bagian dari perjuangan mereka, walau sekedar teriakan penyemangat
           Akan kami ceritakan saat-saat perjuangan mereka kelak kepada anak cucu kami

     Bung Ical
           Anda berkeinginan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini kelak
           Oleh karena itu jangan biarkan remah-remah simpati yang tersisa pada kami lenyap
           Anda mungkin ingat ungkapan : "we may forgive, but we'll never forget"

           Kami tidak bisa berbuat apa-apa, tapi kami akan ingat selamanya :Lapindo, penggelapan pajak...
           Jangan anda tambah kekecewaan kami dengan merebut permainan ini dari kami
                Jika anda ingin mendapat sedikit ucapan terima kasih dari kami
tolong anda bisikkan sesuatu kepada Nurdin agar ia segera menyingkir dari olahraga ini

     Terima kasih bung Ical

Jangan macam-macam dengan TV anda


Postingan ini melanjutkan notes TELEVISI 24 inch yang saya tulis kemaren. Saya sarankan untuk membaca ayat kursi terlebih dahulu sebelum membacanya untuk menangkal tulah.

Kenapa?

TV SAYA RUSAK.

Iya rusak.

Ga percaya?

Jadi gini ceritanya.

Waktu ujan,saya baru saja menyelesaikan postingan terdahulu. Karena saya lapar,saya mengambil sekaleng besar kerupuk,sepiring kue dan sebotol besar vodka. Oke.yang barusan bohong! Yang benar,sekaleng bir. Yang ini juga bohong. Saya cuma mengambil teh manis (yang ini baru beneran). Haha

Saya mencoba mencari posisi duduk paling yahud lalu menyalakan tv saya. Tapi apa yang terjadi? Tv saya mati, nyala tapi mati. Dan kabar buruk yang kedua adalah remote saya hilang. Sungguh gangguan tidak manusiawi yang saya dapatkan.
Saya mencari si Remote di bawah kolong,di kasur,di belakang salon,dan di kolor adik saya. Siapa tau nyelip gitu. Tapi hasilnya nihil. Saya mulai kesal,karena tidak menemukan si Remote.
Saya memencet tombol chanel di tv. Ga nyala. Saya pencet lagi. Ga nyala juga. Memang tombol disitu sering ngadat sih. Saya tekan kuat2 dan apa yang terjadi? Tutupnya malah copot dan organ2 dalam televisi dapat tampak jika kita mengintip dari lubang berukuran 1x1 itu. Saya mulai panik,saya ambil sendok mencoba menyogok socket nya. Tapi saya malah kesetrum. Parno! Apalagi lagi ujan,saya ambil pensil adik saya dengan licik,dan melanjutkan menyogok socket dalam (bhsnya ga enak ya?!).
Tidak ada yang terjadi,malah keluar 3garis panjang dilayar. Warnanya merah kuning hijau. Mirip pelangi.

Akhirnya saya menyerah. Televisi sialan ini menang. Setelah mencaci maki sendirian,saya tersedu2.
Bagaimana nasib liburan saya?huhu..
Kalo saya kangen Bunda Dorce,saya liat dimana? Masa depan pertelevisian saya mulai muram durjana.

Saya tahu ini tidak logis dan realistis. Tapi ada hubungannya dengan postingan saya atau tidak ya?

Hii..

Oh iya,si Remote ketemu. Ternyata ada di dalem kulkas. Ketinggalan pas ngambil makanan tadi. HE HE :D

Ada yang punya saran hrs di apain nih tv biar nyala lg??


BUAT BUNG CHAIRIL


Saya adalah pengagum Chairil Anwar.

Betul.

Mungkin bagi anda saya hanya pengagum sesaat. Demi gengsi sastra. Hangat-hangat tahi ayam.

Yeah! Seperti kata Chairil : Orang ngomong,anjing nggonggong..

Biarkan saja. Angin berderak,tiang takkan roboh.

Saya masih ingat sajak Chairil yang pertama kali saya baca. Bukan sajak yang biasa nongol di buku Bahasa Indonesia anda seperti Diponegoro, Aku, atau Krawang-Bekasi. Namun sebuah sastra kamar berjudul Senja di Pelabuhan Kecil.

...
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.


Pertama kali membaca bait-bait itu saya langsung berkata "Wah kasian banget yaa Om Chairil ! ". *sambil menggeleng-gelengkan kepala. Saya merasa dia sangat menderita sekali.

Belakangan saya tahu latar penulisannya. Begini. Chairil sedang menuju rumah pujaan hatinya. Namun sesampai disana, Chairil diusir si Gadis seraya berujar : "Ril pulanglah! Jangan sering-sering datang kesini. Nanti kekasihku marah". Chairil tidak pulang,namun pergi ke Pasar Ikan. Kecewa. Akhirnya lahir Senja di Pelabuhan Kecil. Sekali lagi saya merasa hidupnya bagai tragedi. Kasihan sekali. Ckck

Kalau anda tanya saya mengapa saya mengagumi Chairil,saya tak mampu menjawabnya. Ini sama susahnya dengan menjawab pertanyaan apakah Melaney Ricardo itu pria atau bukan. Anda sulit menjelaskan? Nah seperti itu rasanya.

Walaupun dihujat banyak orang. Karena di anggap mengindividualisasi sastra. Asosial. Chairil tetap jadi legenda. Bagi saya Chairil itu tetap lentera. Walau benar kata Sutan Takdir Alisjahbana,sajak Chairil terasa seperti rujak : bikin kantuk hilang namun kalau dimakan banyak-banyak mulas juga.

Chairil itu pahlawan buat saya. Pelopor Angkatan '45. Walau negara yang lucu ini belum (atau tidak) mengakui 'kepahlawanannya'.

Buat saya jadi pahlawan bukan cuman buat Jenderal bintang empat,Mantan presiden,atau orang yang berjuang frontal di medan laga.
Tapi juga orang-orang seperti Chairil. Orang yang melawan pemasungan ide. Melawan pola pikir kolot.

Ada yang salah dengan perkataan saya? Saya harap tidak.

Kalau KH.Abdurrahman Wahid saja bisa dianggap sebagai PAHLAWAN PLURALITAS,kenapa tidak bisa menganggap Bung Chairil sebagai pahlawan pula??

BERBIRAMA


Ini cerita saya punya waktu mudik ke Jawa.
Jadi begini ceritanya.
Saya naik kereta Senja Utama dari Stasiun Jatinegara pukul lima.
Setelah membeli karcis dua ratus dua puluh lima ribu rupiah,saya duduk diperonnya.
Ternyata kedatangan kereta ditunda.
Karena ada kecelakaan didaerah Purwakarta.

Akhirnya kereta tiba.
Pukul sembilan waktunya masuk ke kereta.
Setelah mencari no duduk 5A gerbong dua,saya segera duduk disana.

Teman duduk saya seorang wanita sepertinya mahasiswa.
Terlihat tidak ramah karena terlalu asyik masyuk dengan ipod nya.
Sedikit menyebalkan karena dia bertelefon ria dengan pacarnya sampai pukul tiga.
Tapi apa peduli saya.
Saya memasang headset dan mencoba mengabaikannya.

Singkat kata sampailah saya di Surakarta.
Menyenangkan berada di kampung halaman saya.
Mencium bau sawah dari kejauhan. Bau keraton dan punggawanya. Bau kerbau kyai slamet dan tahi nya.
Ah sedikit berlebihan rupanya saya !

Saya duduk di salah satu meja.
Menunggu datangnya bis jurusan Jogja.
Ada satu disana namun ramai ternyata.
Saya urung menaikinya.
Memilih menunggu bis lain saja.
Namun sampai pukul dua saya belum mendapat bis saya.
Saya mulai lapar dan gelisah.
Seorang tukang ojek menghampiri saya dan berkata:

TO(tkg ojek): pulang neng?
Saya: nggih pakdhe.
(Kata mama saya,bicara bahasa jawa saja biar dapat murah harga. Okehh mamaa !!)
TO: rumahnya dimana?
Saya: Juwiring pakdhe.
TO: lah saya tau itu. Saya antar nggih.. Empat puluh ribu saja gapapa.
Saya: (EMPAT PULUH RIBU DENGKULMU ! ) larang tenan. mboten pakdhe maturnuwun..
TO: bis ke semin masih lama mbak. Bentar lagi sore nggak ada mobil lho mbak (pake logat jawa tulen. Penekanan dihuruf G dan B)
Saya: ngko nggih wonten pakdhe.. *ngeles
TO: ndak mbak. Saya anter saja. Empat puluh sampai rumah.
Saya: (EMPAT PULUH DARI HONGKONG !!) mahal. selangkung mawon pakdhe.. *mulai terprovokasi
TO: ya jangan dua lima tho mbak.
Saya: yaudah dua puluh nggih pakdhe..
TO: *bingung Yoweslahh mbak..
Saya: HA HA HA *tertawa penuh makna

Setelah sukses menipu tukang ojek saya naik dan di antar sampai rumah.
Kami berkata-kata.
Si Pakdhe lucu orangnya. Baik hatinya. Mirip cinderella masuk desa.

Sampai dirumah saya berterimakasih pada si Pakdhe. Saya undang dia masuk rumah,namun dia menolaknya.
Saya memberi dia empat puluh ribu akhirnya. Lupa dengan akal tawar menawar saya. Si Pakdhe pamit dengan senyum gembira..
Saya disambut di dalam rumah oleh keluarga.

Ah senangnya mudik ke Jawa :D