Buku Gerakan Mahasiswa Dalam Persprektif Perubahan Politik Nasional yang dibuat oleh Dody Rudianto, mantan aktivis Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) ini adalah buku yang bisa dijadikan acuan untuk merefresh kembali ingatan kita mengenai gerakan mahasiswa yang terjadi mulai dari angkatan 1908 yang dipelopori para pelajar STOVIA sampai dengan era reformasi.
Buku ini merekonstruksi kembali bagaimana gerakan mahasiswa sejak zaman 1908 beserta latar belakangnya. Fakta-fakta yang disuguhkan dalam buku ini juga dapat dipertanggung jawabkan mengingat penulis adalah pelaku sejarah sejak angkatan 66, menjadi aktivis GEMA 77/78, sampai era NKK/BKK.
Gerakan mahasiswa, sejak angkatan 1908 adalah sebuah gerakan intelektual berbasis idealisme dan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan. Gerakan mahasiswa 1908 tumbuh karena adanya kesadaran mengenai suatu persatuan nasional. Generasi selanjutnya dari gerakan mahasiswa pada masa itu bisa kita sebut nama-nama seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Natsir, Amir, dan masih banyak lagi yang ketika kemerdekaan sudah ditangan mereka semua menjadi tonggak pemerintahan selanjutnya. Satu hal penting dari generasi ini adalah pergerakan mereka lebih dikenal sebagai gerakan pemuda bukan gerakan mahasiswa, Sukarno sendiri menyebut seperti itu, pemilihan kata ‘pemuda’ menunjukkan pergerakan mereka bukanlah pergerakan segelintir elit mengingat orang yang mengenyam pendidikan tinggi pada waktu itu hanyalah orang-orang tertentu dan memang masih sedikit. Selain itu, kata mahasiswa cenderung eksklusif dan tidak merakyat, begitu kata Sukarno.
Buku ini juga menjabarkan bagaimana peran militer dalam setiap gerakan mahasiswa ditiap zamannya, tokoh-tokoh militer yang pro ataupun yang kontra terhadap gerakan mahasiswa dijabarkan jelas disini. selain itu, buku ini juga menjelaskan bagaimana peran pers dalam gerakan mahasiswa, peran pers yang paling terasa adalah ketika terjadi ‘musibah’ NKK/BKK didekade awal 80an. Dengan adanya NKK/BKK ini, semua hal yang berhubungan dengan pergerakan mahasiswa diberanguskan, mati suri, maka, muncullah pers mahasiswa yang masih dibiarkan hidup sebagai ‘ladang’ baru untuk bertukar pikiran bagi para aktivis mahasiswa. Di buku ini disebutkan nama-nama pers mahasiswa yang pernah ada, cukup lengkap. Selain itu, pada lampiran buku ini dibeberkan nama-nama aktivis yang pernah tercatat dalam sejarah dan posisi mereka dalam masyarakat sekarang. Tercatat nama-nama macam Cosmas Batubara, Fahmy Idris, Fahdjroel Rahman, Hariman Siregar, Mahfud MD, Akbar Tandjung, dan masih banyak lagi yang tentu kita kenal.
Hal yang dapat dipelajari dari buku ini, khususnya oleh pergerakan mahasiswa di zaman sekarang adalah pergerakan mahasiswa akan berhasil ketika mereka didukung oleh masyarakat luas. Angkatan 66 berhasil menggulingkan rezim Sukarno tidak lain karena didukung oleh masyarakat luas yang memang juga sudah muak dengan pemerintahan pada waktu itu. Juga angkatan 74 yang mempelopori peristiwa MALARI, angkatan 98 yang secara heroic menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mereka semua berhasil melakukan gerakan sosial untuk mengkritisi pemerintah karena didukung oleh masyarakat luas. Inilah pekerjaan rumah bagi kita, mahasiswa zaman sekarang yang sudah mulai terjangkiti penyakit pragmatisme dan apatisme. Bagaimana pekerjaan berat bagi kita untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap mahasiswa, untuk kembali ‘merakyat’ tepatnya.
Akhir kata, buku Gerakan Mahasiswa Dalam Persprektif Perubahan Politik Nasional bagus dijadikan acuan untuk merekonstruksi kembali sejarah, khususnya dalam pergerakan mahasiswa dan mengambil hal-hal yang dapat dijadikan contoh untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Dalam skala 1-10, buku ini saya beri nilai 7,5.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar