Powered By Blogger

Selasa, 12 April 2011

M. Natsir, Dakwan dan Pemikirannya


Lagi-lagi pengkerdilan sejarah bagi sosok satu ini. Dalam buku-buku pelajaran Natsir hanyalah ‘perdana mentri Indonesia selama 7 bulan’ tidak lebih, tidak kurang. Padahal jika ditilik lebih mendalam, peran Natsir bagi nigara ini sangatlah besar. Mungkin, Negara kesatuan sekarang ini tidak mungkin ada tanpa mosi yang diajukan Natsir, ‘Mosi Integral’. Belum lagi peran Natsir dalam memperjuangkan dasar islam bagi Indonesia meskipun perjuangannya tidak mendapatkan hasil.

Natsir bisa dikatakan adalah seorang negarawan sejati, namun, yang tidak kalah pentingnya adalah sosok Natsir sebagai ulama. Nah, di buku inilah diulas peran Natsir khususnya Natsir sebagai ulama.

Dalam berdakwah, Natsir adalah salahsatu contoh terbaik untuk ditiru bahkan sampai zaman sekarang. Menurut Natsir dan pasti juga diamini oleh semua orang esensi dakwah adalah amar ma’ruf nahi munkar. Menyerukan dalam kebaikan dan mencegah dalam keburukan. Begitulah kira-kira. Bagi Natsir, 3 hal utama yang mesti dimiliki seseorang untuk berdakwah adalah amal perbuatan lisan, aktualisasi ajaran islam dengan karya nyata, dan kepribadian yang terpuji. Inilah hal yang unik dalam diri Natsir, bagaimana etika dia dalam berdakwah, Natsir dalam berdakwah tidaklah menjadikan suatu perkara ini haram, itu kafir, tapi bagaimana memberikan opsi terbaik bagi rakyat pada intinya. Etika berdakwah inilah yang sekarang kadang luput dari para ulama zaman sekarang, bagaimana mereka seenaknya menjudge ini haram, itu kafir, belum lagi kadang yang mereka bicarakan berbeda dengan realita yang mereka lakukan. Jika hal itu yang terjadi, maka tidak heranlah peran ulama zaman sekarang yang makin termarjinalisasi oleh perilaku mereka sendiri.

Dalam bidang dakwah, Natsir memiliki kecakapan intelektual yang utuh dalam artian dapat melihat sesuatu secara komprehensif seperti masalah-masalah sosial dan ekonomi. Namun, dalam masalah politik, Natsir cenderung melihat orang dari sisi negatifnya saja seperti pandangan Natsir tentang Sukarno. Inilah yang luput dari dakwah seorang M. Natsir. Dalam berdakwah, Natsir lebih cenderung bersifat formal dalam arti dakwah-dakwah yang dia sampaikan lebih lewat tulisan-tulisan di media cetak maupun surat-surat resmi khususnya bagi para penguasa. Natsir melupakan metode dakwah dengan pendekatan kekeluargaan, layaknya ayah yang menasihati anaknya, itulah yang membuat Natsir seperti dijauhi oleh para peguasa seperti zaman orde lama (Sukarno) maupun orde baru (Suharto). Kekurangan inilah yang mestinya diperbaiki bagi para ulama zaman sekarang khususnya sambil juga mencontoh tauladan yang tiada habisnya dari sosok satu ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar