Powered By Blogger

Selasa, 12 April 2011

Surat untukmu, bung Karno - noda yang kau torehkan kepadaku.


Aku mengenal dirimu sudah sangat lama, bahkan ketika aku belum dapat menulis atau membaca. Ya, aku mengenal kau, presiden pertama RI sudah sejak waktu itu. Namun kekagumanku terhadap kau dimulai ketika aku menginjak bangku SMA. Aku ingat buku pertama yang aku baca tentang kau berjudul “80 Tahun Sukarno”. Buku yang sangat berbau orde baru itu sudah lusuh, kuning, bahkan di beberapa bagian sudah ada yang robek. Namun setelah itu aku semakin giat membaca semua hal tentangmu, bukunya, artikelnya, apapun yang berbau tentangmu, bung.

Lama-kelamaan kekagumanku makin bertambah saja terhadap sang putra fajar ini. Aku kagum dengan kegigihan hidupmu sewaktu mendapat tekanan kemiskinan diwaktu kecilmu, aku kagum dengan kemampuanmu menempatkan diri di ‘kawah candradimuka’mu, di rumah HOS Cokroaminoto, aku kagum dengan pengetahuanmu yang melintasi ruang dan waktu, aku kagum dengan keberanianmu ketika kau pertama kali berbicara didepan orang-orang yang sudah ‘matang’ di dunia pergerakan macam Cokro, Muso, Agus Salim, dll. Aku kagum dengan semangatmu, bung, yang gandrung akan persatuan mencoba menyatukan elemen-elemen pergerakan sewaktu pendudukan Belanda, Aku kagum dengan orasi-orasimu yang membuat semua orang terpana ketika melihatmu. Aku kagum, ya..aku kagum dengan sosokmu, bung. Kaulah pahlawanku saat itu selain jendral Sudirman yang bersahaja itu.

Namun, ketika diriku semakin kritis terhadap apa yang aku yakini dulu, ditengah kekagumanku terhadap dirimu, terseliplah kegundahan hati yang membuatku bertanya kembali. Sebenarnya, pantaskan kau ku kagumi dan ku jadikan panutan? Ya, kekagumanku ternoda setelah aku semakin banyak membaca buku dari orang-orang yang mengkritisimu pada waktu kau menjadi orang nomor satu, seperti buku Soe Hok Gie, artikel-artikel Natsir yang terkumpul dalam Capita Selecta. Itulah yang membuat mataku terbuka bahwa kau hanyalah manusia biasa, kau bukan nabi, kau bisa salah, sama seperti gie, seperti natsir, sepertiku.
Kau berkali-kali mengundang Gie kedalam istana, dan saudaraku Gie bersaksi bahwa kau memiliki pembantu-pembantu yang “mubazir untuk tidak dilihat”. Kupikir, “akh. Tidak cukupkah selir-selirmu itu memuaskan nafsu birahimu, bung? Sampai-sampai kau membuat pembantumu seperti itu”. Apa kau lupa debatmu dengan Agus Salim mengenai poligami? Kau lupa ketika itu kau bersikeras bahwa poligami tidaklah menghormati hak perempuan. Namun apa bung, berapa banyak selir yang kau loleksi? Berapa? Dimana penghormatanmu terhadap Sarinah? Hah?

Aku tahu kau hanya manusia biasa. Ketika semua kekuasaan berada ditanganmu dan semua nafsu bercampur dengan pemikiran penyelesaian masalah negara secara instant, kau berkata kuburkan semua partai (setelah kau berkunjung ke Rusia, markas komunis internasional. entah ada hubungannya atau tidak) karena kau mengambil kesimpulan sepihak bahwa masalah-masalah negara tahun 50-60an berasal dari parpol. Ya, karena kau memang berkuasa. Oposisi kau hancurkan, kau penjarakan. Karena kau memang berkuasa, partai-partai agama tidak kau gubris ketika kau semakin condong ke PKI, Partai atheis. Karena kau memang berkuasa, maka kau dapat menghianati undang-undang dasar. Karena kau memang berkuasa. Maka konsep demokrasi terpimpin kau keluarkan. Karena kau memang berkuasa, kau menjadi otoriter, bung. Ya, karena kau memang berkuasa.








Kau tahu kekecewaan apa yang paling sakit yang kau torehkan kepadaku bung? Kau itu orang yang berlagak tahu semua hal padalah nyatanya belum tentu. Berapa banyak ‘fatwa’ yang kau keluarkan tentang masalah agamaku, agamamu juga? Islam. Padahal aku tahu bahwa kau mempelajari Islam ketika umurmu menginjak kepala 2! Akupun tahu bahwa Ibumu seorang Hindu dan Bapakmu seorang Theosof, seorang Kejawen! Aku ingat engkau berkata bahwa Al quran dan Hadist pun tidak harus diikuti  jika tidak sejalan dengan kemerdekaan berpikir. Aku tahu kau pernah berkata bahwa zaman sekarang mencuci liur anjing cukup menggunakan sabun saja, karena pada waktu zaman nabi belumlah ada sabun. Aku juga tahu bahwa kau adalah seorang sekuler sejati, kau mendewakan Mustafa Kemal Pasha, seorang sekuler, seorang atheis!

Kau memang sudah mati lama, bung, namun semangatmu tetap tertanam dihati semua rakyat Indonesia, termasuk aku. Namun, ketika ku tahu bahwa kau tidak sesempurna yang aku tahu selama ini, aku kecewa bung, lebih tepatnya sangat kecewa. Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang? Aku tidak lagi memujamu seperti dulu, namun akupun tidak serta merta membencimu, bung. Aku sedang bimbang, kalau kau benar-benar orang besar, tolong aku, yakini aku agar ku kembali mengagumimu, bung. Kumohon balas suratku ini  dengan kata-katamu seperti engkau menulis tentang Nasakom, dibawah bendera revolusi, atau tentang sarinah yang kau hormati..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar