R.A Kartini adalah salah satu pahlawan nasional yang concern memperjuangkan hak-hak kaum wanita pada masanya, atau suatu emansipasi yang pada saat itu tabu untuk dibicarakan apalagi untuk diperjangkan. Kartini lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879 dari ayah seorang bupati Jepara, Sosrodiningrat. Ibunya bernama Siti Aminah, dia hanyalah seorang selir dari sang ayah, budaya saat itu memang masih kental dengan semangat feodalisme di mana seorang pria lazim menikahi beberapa orang wanita.
Membaca pribadi Kartini bisa dengan mudah diketahui lewat surat-suratnya kepada ‘sahabat pena’nya dari negeri Belanda, diantaranya Van Kol dan Abendanon. Kartini adalah kaum aristokrat yang pertama mengenyam pendidikan Barat, dia adalah seorang wanita yang terlarut dalam arus feodalisme dan pendidikan alam kolonialisme. Walaupun pada akhirnya Kartini ‘kalah’ dia akhirnya menikah dengan orang yang tidak dikehendaki, dan mimpinya untuk melanjutkan studi ke negeri Belanda kandas karena ditentang oleh sang ayah.
Pokok pikiran Kartini yang paling menonjol adalah soal emansipasi yang menentang adat feodal, bahkan di rumahnya sendiri adat feodal itu dengan nyata terlihat, ibunya hanyalah seorang selir sehingga diperlakukan layaknya pembantu. Untuk itu kartini mendirikan sekolah untuk kaumnya pada tahun 1904, awalnya sekolah ini hanya 15 orang. Di sekolah ini Kartini mencoba menjadi seorang ibu kepada anak-anaknya ketimbang seorang guru kepada murid. Di sekolah ini Kartini mencoba mengajarkan budaya budaya baru dengan mengikis adat feodalisme, di sini juga kartini mengajarkan pendidikan agama.
Dalam urusan agama, Kartini memang beragama Islam namun pemahamannya tidak bisa dibilang mendalam, Kartini belajar Islam hanya sebatas membaca al-Quran dan menghapal bagian-bagian ayat al-Quran. Pandangan Kartini tentang agama mulai tumbuh saat melakukan surat-menyurat dengan teman-temannya di negeri Belanda. Kartini sering menceritakan kondisi keagamaan (khususnya Islam) yang terjadi di wilayahnya, dia adalah orang yang berpandangan universal tentang agama, dia tidak mendasarkan pikiran-pikirannya pada dogma agama yang kaku, namun lebih mendasarkan agama pada implementasi para pemeluknya. Atas dasar itulah Kartini menjadi corong terdepan yang mengkritik poligami yang menurutnya sangat tidak berprikemanusiaan.
Kartini adalah pribadi yang kompleks tentang agama. Dia pernah berkata bahwa dia anak Buddha ketika seorang pemeluk Buddha menyembuhkannya ketika sakit keras. Kartini memuji ketika geraka zending mencoba memperbaiki kehidupan masyarakat, dia juga mempelajari Yahudi lewat sahabat penanya di negeri Belanda. Jika kita lihat di sini maka bisa kita lihat pribadi Kartini sebagai sosok yang mencoba melakukan sinkretisme, namun pendirian Kartini ini tidak bisa dilihat lewat sebuah landasan agama yang kaku dan dogmatis. Kartini melihat agama sebagai sebuah alat untuk perprilaku kepada sesama manusia, sebuah nilai universal di mana nilai-nilai agama seharusnya digunakan untuk menolong manusia-manusia lainnya, hal inilah yang membuat kartini sering mengkritik keras orang-orang yang mengatasnamakan agama untuk menyakiti orang lain. Kritik-kritik tentang agama Kartini pernah membuat sebuah kontroversi, namun pendirian Kartini ini pernah didukung oleh Agus Salim, seorang tokoh pergerakan nasional yang berideologi Islam.
Pribadi Kartini yang kritis memandang agama ini tidak sampai kepada kesimpulan bahwa agama itu salah, tapi orang-orang ayng mengatasnamakan agama demi egoisme itulah yang patut diusalahkan. Kartini bagaikan seorang dari luar yang memandang agama, agama yang bukan sebagai doktrin tapi agama untuk landasan implementasi dalam kehidupan. Kartini adalah contoh wanita yang bertoleransi tinggi, agama-agama seharusnya bersatu padu dan menghilangkan ego masing-masing untuk memperbaiki kehidupan sosial dan menghapus penderitaan rakyat. Sebuah nilai filosifis yang masih sangat relevan dimasa kini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar